Masjid Baiturrahim ini merupakan satu-satunya bangunan dipinggir pantai Ulee Lheue yang berdiri kokoh pada saat Tsunami menerjang Kota Banda Aceh, padahal bangunan-bangunan lainnya yang berada dipinggir pantai habis luluh lantak. Berlokasi di Ulee Lheue, Kecamatan Meuraxa. Kota Banda Aceh.
Pasca Tragedi Tsunami melanda Aceh, berbagai bantuan datang dari segala penjuru dunia, termasuk dari Kesultanan Oman yang berada di Jazirah Arab. Masjid indah di daerah Lamprit. Banda Aceh, ini pun dibangun yang merupakan bentuk rasa peduli mereka terhadap rakyat Aceh.
Gedung yang dibangun di Ulee Lheu (Jl. Ulee Lheu ke Peukan Bada) atau di sebelah Kuburan Masal bekas Rumah Sakit Meuraxa, Desa Lambung-Desa Dayah Geulumpang- Dayah Teungoh ini dibuat dengan dana dari pemerintah Jepang dan baru selesai pada bulan Austus 2008. Gedung yang sangat kokoh dan tinggi ini mempunyai tangga termasuk untuk orang cacat. Gedung ini diperuntukkan untuk masyarakat setempat agar bisa dipakai sebagai balai warga untuk keperluan pertemuan dan sebagainya selain untuk tempat penyelamatan bila terjadi Tsunami. Kecuali gedung yang terletak di Ulee Lheue ini, ke tiga gedung lain mempunyai Helipad (tempat pendaratan helicopter) di bagian paling atas gedung.
Dikarenakan banyak menara transmisi listrik dari Sumatera Utara ke Aceh ditebang oleh pihak-pihak pemberontak pada masa konflik maka masalah kekurangan listrik di Banda Aceh menjadi sangat krusial sehingga PLN menempatkan Kapal Generator Listrik yang berukuran raksasa untuk mensuplai kebutuhan listrik di Banda Aceh melalui jalur laut. Pada hari minggu pagi tanggal 26 Desember 2004, gelombang Tsunami menghempas Kapal Besar tersebut sejauh lebih kurang 3KM dari pesisir pantai.
26. Kapal Diatas Rumah Penduduk
Keadaan ini dapat Anda saksikan di Kampung Lampulo, Kec.Kuta Alam. Kota Banda Aceh. Kapal ini adalah salah satu dari dari kapal-kapal yang terdampar kedaratan pada saat terjadi bencana Tsunami beberapa waktu lalu. Hingga saat ini keberadaan kapal ini tetap dipertahankan sebagai obyek wisata untuk mengingat akan peristiwa tersebut, dan dijadikan salah satu situs Peringatan Tsunami.
Kabupaten Aceh Besar
1. Pantai Lampu`uk
Lokasi ini terletak di Desa Meunasah Masjid, sekitar 15 KM dari Banda Aceh dan dekat dengan jalur Banda Aceh - Calang (Aceh Jaya).
Pantai Lampu’uk merupakan Objek wisata kebanggan masyarakat Kabupaten Aceh Besar, karena pantai ini sangat indah dengan landaian pasir putihnya yang lembut.
Objek wisata pantai Lampu’uk ini terletak di teluk, sehingga tempat ini sangat menarik untuk area rekreasi pantai seperti berenang, jetski, surfing, snorkeling, atau hanya sekedar untuk menikmati suasana pantainya yang sangat indah.
Sebelum terjadinya benca alam Tsunami, daerah ini merupakan perkampungan tradisional yang dominan penduduknya bekerja sebagai nelayan, petani cegkeh, pegawai pabrik Semen SAI dll.
Karena daerah ini terletak di bibir pantai dan di ujung pulau Sumatera, maka kerusakan akibat Tsunami sangat fatal. Sangat banyak penduduknya yang menjadi korban. Bantuan dari mancanegara yang sangat dominan terlihat di sini adalah bantuan fisik dari negara Turki seperti rumah bantuan, sekolah sekolah, dan infrastruktur lainnya.
2. Pantai Lhok Mee
Pantai Lhok Mee terdapat di desa Lamreh, Dusun Lhok. Lokasi ini merupakan pantai berpasir putih yg indah dan menjadi salah satu tempat rekreasi bagi wisatawan lokal maupun wisatawan asing.
Di sepanjang pinggiran pantai terdapat warung yang menjual makanan dan minuman untuk para pengunjung, tidak jauh dari kawasan pantai ini terdapat perumahan penduduk setempat.
3. Pantai Lhok Nga
Bertempatdi Kecamatan Lhok Nga, Kabupaten Aceh Besar. Lhok Nga adalah kawasan wisata yang cukup popular di Kabupaten Aceh Besar. wisatawan yang berkunjung ke pantai Lhok Nga ini dominannya berasal dari kota Banda Aceh, dan letak lokasi wisata ini sangat dekat dengan PT.SAI (Semen Andalas Indonesia).
Sebelum bencana Tsunami melanda Aceh, kawasan pantai ini lebih indah dibandingkan dengan masa pasca Tsunami, karena lokasi objek wisata ini terkena abrasi oleh air laut, meskipun demikian sampai sekarang objek wisata pantai ini masih ramai dikunjungi, khusus nya pada saat hari libur.
Ketegangan ombak di pantai Lhok Nga ini sangat tinggi sehingga sering digunakan untuk kegiatan para pecinta surfing.
4. Pantai Ujong Batee
Pantai indah yang berlokasi di Kecamatan Mesjid Raya, atau dengan jarak tempuh sekitar 17 km dari Kota Banda Aceh ini memiliki pasir putih yang selalu menjadi tujuan wisata masyarakat daerah. Kawasan wisata ini juga berdekatan dengan obyek wisata Benteng Indra Patra.
Pantai ini juga merupakan lokasi wisata yang menyenangkan sebagai tempat rekreasi seperti berenang, berkemah maupun bersantai bersama keluarga.
5. Panorama Teluk Krueng Raya
Panorama Teluk Krueng Raya merupakan panorama alam yang indah dan mempesona, dan keindahannya bisa terlihat dari Teluk Krueng Raya.
Dari panorama Teluk Krueng Raya ini juga terlihat Pelabuhan Malahayati, yaitu Pelabuhan khusus untuk kapal-kapal berukuran besar dan juga kapal cargo.Tempat wisata ini berada di Desa Lamreh, Kecamatan Masjid Raya. Aceh Besar.
6. Pulau Keureusik
Pulau Keureusik terletak diantara Pulau Beras dan Pulau Nasi. Dari Pelabuhan Ulee-Lheu Banda Aceh menggunakan perahu motor (boat), jarak tempuh sekitar 2 jam perjalanan. Kecamatan Pulo Aceh. Pulau Keureusik merupakan salah satu pulau kecil yang memiliki banyak keindahan, dan terletak di Kecamatan Pulau Aceh atau Pulau Keureusik.
Keindahannya yang mengagumkan seperti pantai pasir putih yang eksotik, panorama alam yang asri, air pantainya yang jernih, selain itu juga terdapat keindahan ekosistem di bawah laut, seperti terumbu karang, bintang laut dan berbagai jenis ikan, serta ekosistem lainnya.
Sungguh objek wisata yang menarik, selain itu di pantai ini wisatawan bisa melakukan aktifitas pantai yang menyenangkan seperti berenang, memancing, dan snorkling.
7. Pulo Aceh
Terletak di Kecamatan Pulo Aceh, Kabupaten Aceh Besar. Dari Banda Aceh dengan menumpangi (boat) perahu motor membutuhkan waktu tempuh sekitar 2 jam perjalanan. Pulo Aceh adalah wilayah kecamatan dari kabupaten Aceh Besar, yang terdiri dari gugusan pulau-pulau kecil dengan pemandangan alam yang sungguh indah dan mempesona, gugusan pulau-pulau yang indah ini, antara nya Pulau Breuh, Pulau Nasi, Pulau Keureusik, Pulau Bunta dan lain-lain.
Begitu juga dengan keindahan lainnya seperti pemandangan bawah laut yg tidak kalah indahnya, berbagai jenis ikan hias dan terumbu karang yang indah dapat ditemukan disini.
8. Ekowisata Balu Indah
Lokasi ini bertempat di Pulau Beras, Kecamatan Pulo Aceh. Kabupaten Aceh Besar. Dari Banda Aceh (pelabuhan Ulee Lheu) dengan menggunakan perahu motor (speed boat) membutuhkan waktu tempuh sekitar 2 jam perjalanan.
Obyek wisata ini dikelilingi hutan lindung yg hijau dan hamparan pasir putih yang indah, menjadikan Pulo Aceh sebagai Kawasan objek wisata alam untuk menarik minat pengunjung. Dilengkapi dengan fasilitas seperti: empat cottage bercorak khas rumoh Aceh, satu unit kantor, dua unit rumah ukuran 4X5 meter, satu masjid disertai tempat wudhuk, satu sumur bor serta satu bale rehat. Fasilitas ini hanya berjarak sekitar 40 meter dari bibir pantai Balu Indah. Pengelola kawasan wisata ini adalah penduduk setempat yang telah dibekali pengetahuan mengenai pengelolaan objek wisata berlandaskan pada penjagaan dan pelestarian lingkungan.
9. Ie Seuum (Sumber Air Panas Alami)
Alamat lokasi ini yaitu berada di Desa Ie Seuum, Mukim Krueng Raya, Kecamatan Mesjid Raya. Kab. Aceh Besar. Tempat ini letaknya di kaki gunung Seulawah sekitar 38 KM dari banda Aceh.
Sumber air panas (Ie Seuum) dengan suhu panasnya kira-kira 85 derajat Celcius, dengan volume air yang cukup besar, dan mempunyai 4 sumber mata air.
Pengunjung pada umumnya datang dari sekitar Kota Banda Aceh dan Kab.Aceh Besar. Seperti kita ketahui, bahwa air panas bumi mengandung belerang dan mineral lainnya yang sangat berkhasiat untuk menyembuhkan penyakit kulit.
10. Air Terjun Biluy
Obyek wisata ini terletak di Desa Biluy, Kecamatan Darul Kamal. Luas lokasi ini sekitar 5 hektar, dan juga terdapat taman. Fasilitas yang terdapat dilokasi ini cukup menunjang, antara lain rumah makan dan musholla.
11. Air Terjun Seuhom, Lhoong
Air terjun ini berlokasi di Desa Krueng Kala, Kecamatan Lhoong. Kabupaten Aceh Besar. Dari Kota Banda Aceh jarak tempuh sekitar 1 jam, Perjalanan ke sana melalui rute Banda Aceh – Calang (Aceh Jaya), melewati Pantai Lampuuk dan Pantai Lhoknga. Posisi air terjun ini berada di tengah panorama alam yang indah dan alami. Di sekitarnya terdapat banyak pohon durian, sehingga pada musim durian banyak yang berjualan durian di sekitar air terjun. Di samping itu, di sekitar air terjun juga terdapat lokasi yang dapat digunakan untuk berkemah (camping). Air terjun yang deras ini juga menjadi sumber energi listrik bagi masyarakat di sekitar Desa Kreung Kala. Sebuah pembangkit listrik tenaga mikrohidro kini telah dibangun di dekat air terjun dan dioperasikan untuk mengaliri listrik kepada sekitar 200 KK (Kepala Keluarga) penduduk Desa Kreung Kala.
12. Krueng Jreu
Krueng dalam bahasa Aceh yang artinya Sungai. Selain menikmati pemandangan alam hutan yang asri, Dikawasan wisata ini pengunjung juga bisa melakukan aktivitas memancing disungai yang sangat jernih. Luas lokasi wisata ini sekitar 50 Hektar. Obyek ekowisata ini pantas untuk dikunjungi.
Tempat wisata yang indah ini bertempat di desa Krueng Lam Kareung, Kecamatan Indrapuri, Kabupaten Aceh Besar. Jarak tempuh dari Kota Banda Aceh sekitar 35 menit.
13. Pocut Krueng Lhok Nga
Keberadaan tempat ini yaitu di Kecamatan Lhok Nga, bisa ditempuh dari pantai Lhok Nga sekitar 20 menit berkendaraan. Tepatnya dibelakang PT.SAI (Semen Andalas Indonesia). Bagi yang menyukai petulangan alam, lokasi ini tepat untuk dikunjungi, selain berperahu menyusuri sungai, bagi yang hobi menjelajahi goa alam bisa dilakukan disini.
14. Cagar Alam Jantho
Cagar alam ini berlokasi di Dari Banda Aceh (Ibukota Propinsi NAD) berjarak sekitar 50 Km. Dari Kota Jantho (Ibukota Kabupaten Aceh Besar) ke Kawasan Cagar Alam sekitar 9 km. Kawasan Cagar Alam Jantho menjadi kawasan lindung bagi pemerintah daerah Nangroe Aceh Darussalam. Berbagai Flora dan Fauna hidup dalam cagar alam ini. Waktu kunjungan terbaik pada bulan April s/d Agustus (Musim Kemarau) untuk menikmati pemandangan/panorama yang indah. Jenis Flora yang bisa didapati diantaranya hutan Pinus, Mampre, Jambu air, Gleum, Bremen, Sampang, Ara, Damar, Medang, Kayu hitam, Beringin, Meranti, Kandis, Rambutan hutan, Tampu, Ketapang, Medang ara, Lukup, Tampang, Lawang, Semiran, Anang, Jenarai, Kerakau, Rengen, Merbau.
Sementara keanekaragaman fauna yang bisa dijumpai seperti siamang, Owa, Macan dahan, Kucing Hutan, Rusa, Kijang, Kancil, Napu, Gajah, Kambing Hutan, Beruang, Trenggiling, Kukang, Kuao.
15. Kebun Binatang Mini Jantho
Terdapat di sisi jalan raya Kota Jantho. Kebun Binatang Mini ini luasnya kurang lebih 4 hektare. Terdapat beberapa hewan-hewan langka yang dilindungi seperti: Orang Utan, Elang Laut, Beruang Madu, Kukang/Malu Malu, serta Bintarung, yaitu sejenis Musang berbulu lebat. Dan kebun binatang mini ini juga pernah diliput dalam acara Panji si petualang.
16. Taman Hutan Raya Pocut Meurah Intan
Berlokasi di Desa Sukamulia, Kecamatan Lembah Seulawah. Obyek wisata ini bersisian jalan Banda Aceh-Medan. Obyek Ekowisata ini selalu menarik minat pengunjung yang ingin berpetualang dengan alam. Kabupaten Aceh Besar mempunyai 2 (dua) Obyek Ekowisata Hutan yaitu Cagar Alam Jantho dan Taman Hutan Raya Pocut Meurah Intan. Kedua tempat ini merupakan Kawasan Konservasi Alam.
17. Benteng Indra Patra
Alamat lokasi di Kecamatan Masjid Raya, jalan Krueng Raya, sekitar 19 km dari Banda Aceh. Benteng Indra Patra dibangun pada masa Kerajaan Hindu, Indra Patra. Benteng ini dibangun untuk pertahanan dari serangan penjajah pada masa itu. Dan kemudian pada masa Pemerintahan Sultan Iskandar Muda benteng ini juga masih tetap difungsikan sebagai benteng pertahanan.
18. Kompeks Pemakaman Teuku Panglima Polem
Kompleks makam T. Panglima Polem bertempat di Desa Lamsie, Kecamatan Kuta Cot Glie.
Teuku Panglima Polem yang kita kenal adalah Teuku Panglima Polem yang bernama asli Teuku Panglima Polem Sri Muda Setia Perkasa Muhammad Daud adalah Panglima Polem yang ke VIII. Beliau adalah salah satu Pahlawan Nasional RI yang berjuang melawan Penjajah Belanda.
"Panglima Polem" adalah gelar yang diberikan secara turun temurun pada anak lelaki dari Panglima Polem I hingga Panglima Polem ke IX yang tercatat sebagai Pejuang Kemerdekaan RI. Di Kompleks Pemakaman ini bisa dilihat makam dari sebagian para Panglima Polem.
19. Makam Teungku Chik DiTiro
Berlokasi di Desa Mureu Lam Glumpang, Kecamatan Indrapuri.
Muhammad Saman, yang kemudian lebih dikenal dengan nama Teungku Cik DiTiro (Pidie 1836-1891), adalah seorang Pahlawan dari Aceh. Ia adalah putra dari Teungku Sjech Ubaidillah. Sedangkan ibunya bernama Siti Aisyah, putri Teungku Sjech Abdussalam Muda Tiro. Ia lahir pada tahun 1836, bertepatan dengan 1251 Hijriah di Dajah Jrueng kenegerian Tjombok Lamlo, Tiro, daerah Pidie, Aceh. Ia dibesarkan dalam lingkungan agama yang ketat. Ketika ia menunaikan ibadah haji di Mekkah, ia memperdalam lagi ilmu agamanya.
Selain itu tidak lupa ia menjumpai pimpinan-pimpinan Islam yang ada di sana, sehingga ia mulai tahu tentang perjuangan para pemimpin tersebut dalam berjuang melawan imperialisme dan kolonialisme. Sesuai dengan ajaran agama yang diyakininya, Teungku Cik DiTiro sanggup berkorban apa saja baik harta benda, kedudukan, maupun nyawanya demi tegaknya agama dan bangsa. Keyakinan ini dibuktikan dengan kehidupan nyata, yang kemudian kebih dikenal dengan "Perang Sabi".
Dengan Perang Sabinya, satu persatu benteng Belanda dapat direbut. Begitu pula wilayah-wilayah yang selama ini diduduki Belanda jatuh ke tangan pasukan Cik DiTiro. Pada bulan Mei tahun 1881, pasukan Cik DiTiro dapat merebut benteng Belanda Lambaro, Aneuk Galong dan lain-lain. Belanda merasa kewalahan akhirnya memakai "siasat liuk" dengan mengirim makanan yang sudah dibubuhi racun. Tanpa curiga sedikitpun Cik DiTiro memakannya, dan akhirnya meninggal pada bulan Januari 1891 di benteng Aneuk Galong.
20. Makam Teuku Nyak Arief
Berlokasi di Desa Lamreueng,Kecamatan Ingin Jaya. Pada masa perjuangan Kemerdekaan Indonesia, saat Volksraad (parlemen) dibentuk, Teuku Nyak Arif terpilih sebagai wakil pertama dari Aceh. Kemudian Beliau dilantik sebagai Gubernur Aceh pertama (1945–1946) oleh Gubernur Sumatra pertama, Moehammad Hasan, yang juga berasal dari Aceh.
21. Makam Laksamana Malahayati
Makam ini berada di atas bukit, di Desa Lamreh, Kecamatan Mesjid Raya, Kabupaten Aceh Besar atau sekitar 34,5 kilometer dari Kota Banda Aceh.
Laksamana Keumala Hayati atau dikenal dengan Laksamana Malahayati, adalah salah seorang perempuan pejuang yang berasal dari Kesultanan Aceh. Pada tahun 1585-1604, memegang jabatan sebagai Kepala Barisan Pengawal Istana Panglima Rahasia dan Panglima Protokol Pemerintah dari Sultan Saidil Mukammil Alauddin Riayat Syah IV. Selain berkedudukan sebagai Kepala Pengawal Istana, Malahayati juga seorang ahli politik yang mengatur diplomasi penting kerajaan pada saat itu. Malahayati memimpin 2.000 orang pasukan Inong Balee (janda-janda pahlawan yang telah tewas) berperang melawan kapal-kapal Belanda tanggal 11 September 1599 sekaligus membunuh Cornelis de Houtman dalam pertempuran di geladak kapal, dan mendapat gelar "Laksamana" untuk keberaniannya ini, sehingga ia kemudian lebih dikenal dengan nama Laksamana Malahayati. Lokasi Pemakaman dari Puncak bukit terlihat pemandangan Teluk Krueng Raya dan pegunungan Bukit Barisan yang indah. Tidak jauh dari lokasi makam Malahayati, sekitar 3 km terdapat Benteng Inong Balee, diperkirakan benteng ini dibangun bersamaan dengan pembentukan pasukan Inong Balee.
22. Makam Teungku Chik Pante Kulu
Makam ini berada di Desa Bak Sukon, Kecamatan Kuta Cot Glie.
Tgk Chik Pante Kulu adalah Ulama dan Pujangga kenamaan abad ke-19 menulis puisi "Hikayat Perang Sabi" setelah ia kembali dari pengembaraan selama empat tahun menuntut ilmu di Mekah. Ketika itu ia berumur 45 tahun. Didalam Hikayat Perang Sabi yang terkenal ini berisi puisi mengenai "Semangat Jihad" atau Semangat berperang di jalan Allah. Isi dari Hikayat ini dijadikan pegangan dan panutan para Pejuang/Pahlawan Aceh antara lain Teungku Chik Di Tiro dalam membela tanah air tercinta dari para Penjajah.
23. Perpustakan Kuno Tanoh Abee
Perpustakaan ini beralamatkan di Desa Tanoh Abee, Kecamatan Seulimeum, Kabupaten Aceh Besar, Jarak tempuh sekitar 42 km dari Kota Banda Aceh.
Perpustakaan ini merupakan tempat penyimpanan buku-buku dan catatan peninggalan ulama-ulama Aceh zaman dahulu, yang ditulis dalam bahasa Arab. Judul buku yang telah ditulis ini sebanyak 3.000 sampai dengan 4000 judul, yang kesemuanya itu ditulis tangan, yaitu ilmu pengetahuan tentang Islam, Sejarah dan kebudayaan Aceh dari abad 16 hingga 19 M. Perpustakaan Tanoh Abee terletak di dalam kompleks Pesantren Tanoh Abee yang didirikan oleh keluarga Fairus yang mencapai klimaks kejayaannya pada masa pimpinan Syekh Abdul Wahab yang terkenal dengan sebutan Teungku Chik Tanoh Abee.
Beliau meninggal pada tahun 1894 dan dimakamkan di Tanoh Abee. Pengumpukan naskah (manuskrip) Dayah Tanoh Abee telah dimulai sejak Syekh Abdul Rahim, kakek dari Syekh Abdul Wahab. Naskah yang terakhir ditulis pada masa Syekh Muhammad Sa’id, anak Syekh Abdul Wahab yang meninggal dunia pada tahun 1901 di Banda Aceh, dalam tahanan Belanda. Perpustakaan ini banyak dikunjungi wisatawan baik domestik maupun mancanegara.
24. Tugu Peringatan Penerbang Pertama Aceh Maimun Saleh
Monumen ini berada di Kecamatan Montasik. Dokumen dari Serambi Online Tgl. 28 Januari 2008. Maimun Saleh adalah putra Aceh kelahiran Montasik Aceh Besar, merupakan orang pertama Aceh yang menjadi Pilot Pesawat terbang.
25. Museum Cut Nyak Dhien
Museum Cut Nyak Dhien bertempat sekitar 6 km dari Kota Banda Aceh, Desa Lam Pisang, Kec.Peukan Bada. Kab.Aceh Besar.
Cut Nyak Dhien dikenal sebagai adalah Pahlawan Nasional Indonesia yang berasal dari Aceh, dan berjuang melawan penjajah pada saat Perang Aceh Melawan Belanda. Beliau Lahir di Lampadang Aceh Besar 1848 – 6 November 1908,dan wafat di Sumedang, Jawa Barat, dimakamkan di Gunung Puyuh, Sumedang.
26. Masjid Kuno Indrapuri
Lokasinya di Kecamatan Indrapuri, jarak tempuh sekitar 25 km dari kota Banda Aceh. Masjid Kuno Indrapuri ini dahulu adalah Candi dari Kerajaan Hindu Lamuri sekitar abad ke-12 Masehi dan merupakan tempat pemujaan sebelum Agama Islam masuk. Kemudian terjadi perang dengan pasukan bajak laut dari Cina, dan akhirnya dimenangkan oleh Kerajaan Lamuri atas bantuan Meurah Johan yaitu Pangeran dari Lingga (gayo), yang kemudian menjadikan Kerajaan Lamuri sebagai penganut Islam, tempat ini yang sebelumnya kuil diubah menjadi sebuah masjid. Bangunan masjid berdiri di atas tanah seluas 33.875 m², terletak di ketinggian 4,8 meter diatas permukaan laut dan berada sekitar 150 meter dari tepi Sungai Krueng Aceh.
27. Masjid Rahmatullah Lampu`uk
Mesjid yang bertempat di desa Lampu'uk ini dibangun pada awal tahun 1990 ini sangat kokoh dan berukuran cukup besar untuk jumlah penduduk Lampuuk sebelum Tsunami. Beberapa bagian dari dinding mesjid ini rusak namun secara keseluruhan mesjid ini masih berdiri tegak hingga sekarang. Daerah ini mendapat banyak bantuan dari Negara Turki. Disana terlihat tanda-tanda bantuan Turki baik itu kompleks perumahan disekeliling masjid maupun rehabilitasi masjid itu sendiri.
28. Lamsujen-Lhoong
Daerah Lhoong khususnya Lamsujen merupakan daerah pergunungan yang terletak di sepanjang pantai barat di sekitar kilometer 54 dari Banda Aceh ke Lamno (Aceh Jaya). Pada bulan-bulan tertentu misalnya sekitar bulan Agustus, pengunjung baik pedagang atau orang-orang yang hanya ingin berekreasi untuk makan buah durian datang kedaerah ini.
Letak tempat tersebut sekitar 2 KM dari jembatan baru Lamsujen. Disana terdapat bendungan kecil dan lapak-lapak atau warung kecil yg menjual buah durian. Dikarenakan tempat ini terletak dekat dengan hutan penghasil durian, maka durian segar dapat dipilih sendiri dan harganya relatif murah.
Lihat juga tempat wisata di aceh part 2 http://jasri-irawan.blogspot.com/2014/12/tempat-wisata-di-aceh-part-2.html
tempat wisata di aceh Part 3 http://jasri-irawan.blogspot.com/2014/12/tempat-wisata-di-aceh-part-3.html
sumber : http://visitaceh.com